Postingan

Akhir

Gambar
Aku temukan rindu pada bayangan senja dibola matamu, Pancaran warna jingga kala itu, Tiada kusangka menjadi akhir senja kita berdua, Ribuan kali senja pernah kita tatap bersama, Pancaran sinarnya menyatukan warna langit dan laut, Mengindahkan semesta tanpa membedakan, Tenggelam demi muncul kepermukaan, Hingga senja yang kesekian, Tak sanggup lagi ku tatap, Sinarnya berbekas ribuan kenangan, Hingga rindu laksana memperolok keteguhan penantian, Akhir mentari pada sore yang sepi, Hanya menebar ingatan ke semesta bumi, Rindu pun menyeruak pada riak ombak yang menepi, Senja tak lagi indah bagai sedia kala, Tentang rindu yang kau tinggalkan, Tak hanya menyesakkan ku seorang, Melainkan menghilangkan pula satu kesempurnaan senja, Keindahannya dikala ku nikmati bersama mu. _MR_

Menunggu

Gambar
Aku yang bersalah Telah bermain dengan dusta Membiarkannya menodai cinta Hingga aku terlena dalam mendua Dan kaupun pergi di waktu senja Lambaian tangan isyarat pamit meski terluka Langkah demi langkahmu kian menjauhkan kita Meninggalkan cinta yang dulu pernah ada Mimpi hilang ditelan bayang bayang Hati merinti jika mengenang Rindu semakin menggarang Jiwa terhakimi kasih dan sayang Aku tak lagi perkasa membawa rasa Sebab dosa yang melenakan raga Nafsu telah membabi buta Dan kau telah tiada, entah dimana Aku akan tetap disini menanggung dosa Menyaksikan setiap senja yang menepi Menanti bersama segenap rindu di hati Berharap dikau kasih, akan kembali Berilah aku walau setitik kesempatan Untuk menyerahkan segalanya Aku adalah milikmu Maafkan aku 

Demonstran

Gambar
Jalan di kota kota kembali ramai Asap hitam menggumpal Tebal dan pekat Mengangkasa teriakan Menggema di antara bangunan Antrean panjang pengemudi Terbentang luas nan berserakan Jalan di kota kota kembali ramai Keringat demonstran mengalir membungkam debu Sentakan kaki demonstran menjinakkan bumi Kepalan tangan demonstran menggetarkan penguasa Jalan di kota kota semakin ramai Para pejuang bertarung menagi janji Telah sadar jika rumah tak damai lagi Mereka turun ke jalan Mengobarkan api tanda peringatan Ban ban bekas menjelma arang laksana simbol perlawanan Revolusi !!! Revolusi !!! Revolusi !!! Sampai mati !!! Aparat berdatangan Kami lawan Aparat pun melawan Bentrok tak terhindarkan Aparat punya peluru Kami punya batu

Kumpulan Sajak

Gambar

ADA JIWA YANG TAK LAGI BERGELORA

telah redup kah api telah ciut kah badai tak terbit lagi kah mentari telah mangkat kah nurani aku tak merasakannya lagi lumpuh kakiku tak mampu lagi melangkah lumpuh tanganku tak lagi mampu mengkepal akupun tahu ini inginmu buta mataku tak lagi sanggup memandang derita mereka tuli telingaku tak sanggup mendengar jeritan mereka inilah yang tuan inginkan terjerat di kubang penindasan hanya mampu bergerak tunduk harapan kamipun kau tentukan hingga mati dengan perlahan tak bisa kami hindarkan

KEKUASAAN

"Kekuasaan" Mereka mengatakan Aku barang rebutan Bagaikan rembulan Yang jadi idaman Tak lagi menghiraukan Ini lawan atau kawan Asalkan bisa mendapatkan Diriku yang tampan rupawan Aku adalah kekuasaan Tuhan segala kebijakan Sekali ku tanda tangan Miliaran rupiah ku dapatkan Aku adalah kekuasaan Sang pemilik kebijaksanaan Mengendalikan kejahatan Demi menjaga keseimbangan Kejarlah aku Impikan aku Niscaya kau Mendapatkanku

FRUSTASI

"Frustasi" Ingin ku tanam diriku biar tak nampak kepermukaan Akan kujadikan santapan cacing cacing kelaparan Tergerogoti hingga taktersisah kemudian Agar semesta jeda menertawakan Apalah daya bila terus berjalan di hamparan alam raya Bila teriakan syair hanyalah kesombongan yang bersolek Menggiring ke muara persemayaman kemunafikan Kesadaran tak lagi merasakan rindu Keikhlasan terkalahkan oleh fatamorgana kemolekan duniawi Tinggallah sukma tak bernilai esensi manusiawi Dan jasad tak lebih dari sekumpulan daging yang menunggu untuk membusuk Aku telah habis bung, aku kalah dengan diriku sendiri Telah aku beri ruang pada hasrat untuk membabi buta Yang kini membawaku menuju kubangan lumpur Lumpur yang menyeret para petuah ambisi.