Postingan populer dari blog ini
Pena Hitam
Pena hitam terus saja jadi solusi Memecah kebuntuan dan segenap keresahan hati Memicu kebangkitan ide dalam intuisi Lalu mengalir kedalam sehelai syair puisi Mungkin aku gila jika benda mati Kujadikan kawan dalam hidup ini Bermesraan dengannya di waktu malam sepi Kemudian larut dalam tarian jari jemari Pena hitam teramat lihai soal merayu Menjelma bagaikan miras yang tabu Menawarkan rasa candu yang menggebu Nalarpun mabuk kala mengukir huruf satu demisatu Ku hasilkan kalimat yang rancu Berawal hulu hingga hilir buku Namun cobalah engkau pahami wahai bungaku Sang pena hitam hanya hendak menyampaikan satu rindu
Kerudung Merah
Aku pernah melihat mu di kursi itu, mengenakan kerudung merah dengan tatapan mata berkaca, menahan isak mungkin lantaran malu pada senja, bila sampai kau meneteskan beningnya air mata. Aku pernah melihatmu disana, menyaksikan rupa malam yang merangkak, menggeser seja menghiasi langit, seakan menanti sebuah alasan ataukah jawaban dari penatian yang tak kunjung pulang. Aku pun pernah ingin menyapa mu di bangku itu, menyapu sepi yang menghalangi, hingga kau tak lagi mendengar irama gesekan daun alang alang, namun kusadar bukan aku yang kau harap, menyapu sepi yang menyelimuti hati. Aku pun pernah mencarimu disana, namun hanya bangku usang yang kudapati, serta rasa kelukaan yang kau titip pada angin, kemanakah dirimu wahai si kerudung merah, rasanya senja hilang satu warna di sore itu.









Komentar
Posting Komentar